Tampilkan postingan dengan label MAKALAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAKALAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Agustus 2011

ilmu dakwah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai seorang muslim hendaknya kita mesti tahu sejarah Nabi Muhammad SAW. Baik ketika beliau dalam berdakwah maupun ketika hijrah ke madina.
Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan Nabi dalam berdakwah untuk selalu kita mencontohi dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur-figur yang sebenarnya tidak pantas untuk dicontohdan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan kehidupan Rasullah SAW.
Untuk itu kami mencoba membuka, dan memaparkan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Dan mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dapat menambah rasa kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW.
B. Permasalahan
Adapun permasalahan yang dapat kami paparkan dalam makalah ini antara lain:
1. Sejarah hidup Nabi Muhammad SAW…?
2. Turunnya Wahyu yang pertama…?
3. Nabi Muhammad dalam berdakwa..?
4. Nabi Muhammad SAW hijrah ke Medinah..?
5. Piagam Madinah..?



BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW di lahirkan pada tanggal 12 rabiul awal atau 20 April 570 M. sebelum beliau di lahirkan ayahnya telah wafat. Oleh karena itu kakeknyalah yang mengasuh beliau kemudian di susui oleh Halima Sa’adiyah. Setelah kakeknya wafat beliau di asuh oleh pamannya yaitu Abu Thalib. Salah satu usaha dari Muhammad yang terpenting sebelum di utus menjadi Rasul ia berniaga ke Syam membawa barang-barang Khadijah, perniagan ini menghasilkan laba yang banyak dan menyebabkan adanya pertalian antara Muhammad dengan khadijah dan kemudian mereka menikah. Waktu itu beliau berumur 25 tahun sedangkan khadijah sudah janda yang berumur 40 tahun.
B. Proses Turunnya Wahyu Yang Pertama
Menjelang usianya yang ke 40, ia sudah terbiasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkorteplasi ke gua hira. Yang letaknya beberapa kilometer utara kota Mekah, di sanalah tempat bermula-mula berjam-jam kemudian berhari-hari bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 M, malaikat jibril muncul menyampaikan wahyu Allah yang pertama yaitu: Q.S. Al-Alaq 1-5
Artinya
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-Alaq1-5).
Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Allah sebagai Rasul, tapi dia belum diperintahkan untuk menyuruh manusia kepada agama, setelah wahyu pertama itu datang, jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama sementara Nabi Muhammad SAW. Menantikannya dan selalu datang ke Gua hira.
C. Nabi Muhammad Saw Dalam Berdakwah
Dalam proses penantian jibril turun wahyu kepada Rasulullah yang membawa perintah, wahyu itu berbunyi : Q.s. Al-Mudassir: 1-7
Artinya:
Hai orang yang berkemul (berselimut),Bangunlah, lalu berilah peringatan!Dan Tuhanmu agungkanlah!Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
Menurut Said Quthub, ia menafsirkan ayat 1-7 pada Q.s Al-Mudassir diatas dalah memperingati manusia dan membangunnya: melepaskan dari kejahatan dunia dan kesensaraan akhirat: membinbingnya ke jalan lepas sebelum kasih waktu: ia adalah satu tugas wajib yang sulit dan erat.
Setelah Rasulullah di bebankan dengan tugasnya yang wajib dan berat itu, maka lah membimbingnya agar berhasil dalam tugasnya, yaitu:
1. Mengagumkan Allah, dalam menjalankan tugas itu,beliau harus membesarkan Allah, menyadari dalam ingatnnya bahwa Allah maha Agung, maha besar, sehingga dengan demikian dia akan tabah dan tahan penderitaan dalam menjalankan tugasnya.
2. Mensucikan diri, maksudnya mensucikan jiwa dan hati,mensucikan Ahklak dan amalan. Dalam menjalankan tugasnya, haruslah terlebih dahulu membersihkan dirinya, jiwanya, akhlaknya, hatinya, amal perbuatannya.
3. Menjauhkan syirik. Sekalipun beliau sendiri semenjak sebelum risalah telah menjauhkan syirikdan kejahatan-kejahatan besar, namun bimbingannya lebih di tuju kepadapara juru dakwah setelah Muhammad.
4. Jangan mengharap balas jasa, beliau dibimbing agar mengarap pahala yang banyak dari usahanya itu. Tetapi harus semata mata karena tugas dakwah, tugas risalahnya, dank arena Allah.
5. Sabar menderita. Beliau di bimbing agar sabar dan tabah menderita.
Dakwah pada masa rasul di bagi menjadi 2 zaman :
1. Zaman Mekah
yang di sebut juga periode pembinaan kerajaan Allah dalam hati manusia.
Menurut ahli sejarah Amin Said, dakwah zaman mekah terbagi atas 4 periode,yaitu:
a. Periode rumah tangga
Pada periode ini berlalu selama tiga tahun lamanya dimana pada masa ini Rasulullah menjalankan dakwhnya diam-diam, hanya dengan memberi pelajaran dan petunjuk.
Dalam periode yang pertama ini telah masuk islam istrinya sendiri Syeidah Khadijah .
b. Periode Keluarga
Pada periode ini ketika rasulullah menerima wahyu (Q.S Asy-Syu’ara : 214 – 216)
Artinya:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.
Jika mereka mendurhakaimu Maka Katakanlah: "Sesungguhnya Aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan";

Kemudian rasulullah SAW mengundang para anggota keluarga beliau yang terdekat untuk makan bersama-sama dirumah beliau. Yang hadir sekitar 40 orang, diantaranya paman beliau, Abu Lahab. Setelah selasai makan rasulullah bersiap-siap hendak menyampaikan risalahnya. Akan tetapi dihalau oleh paman Abu Lahab yang duluan berdiri dan berkata dengan suara lantang kepada hadirin yang hadir pada saat itu.

Suasana semacam itu tidak dibiarkan berlalu begitu saja oleh rasulullah SAW. Setelah beberapa hari sesudah itu beliau mengadakan makan malam sekali lagi.
Kali ini, orang baru selesai makan, rasulullah SAW langsung berdiri tidak memberi peluang lagi dan langsung berbicara yang dimulai dengan memuji Allah dan memohon pertolongan kepadaNya: Al-Hasil yang masuk islam pada periode ini adalah:
1. Ali bin Abu Thalib
2. Zaid bin Hanifah
3. Abu Bakar As-Shodiq dan dengan dakwahnya Abu Bakar As-Shodiq, maka masuklah Usman bin Afan, Zubair bin Awam, Abdurrahman bin Alif, Sa’ad bin Abi Waqah dan Thalhah bin Ubaidillah.

c. Periode Konfrontasi
Pada periode ini rasulullah melakukan dakwah secara terang-terangan setelah turun ayat:
Artinya:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olok kamu”
Setelah itu mulailah rasulullah berdakwah secara terang-terangan. Tanpa menghiraukan penghinaan dan ancaman. Nabi menjalankan dakwahnya ke segala tempat seperti: Ka’bah, ketempat-tempat orang Quraisy berkumpul, pada musim hari raya, pada segala kesempatan, dimana ia mengajak mereka memeluk agama Allah, baik golongan bangsawan maupun hamba sahaya. Sehingga pengikutnya bertambah banyak yang menyebabkan kaum Quraisy bertindak keras dan kejam.

Faktor-faktor yang mendorong Quraisy menentang seruan islam, yaitu:
1. Persaingan merebut kekuasaan
2. Penyaman antara hak, kasta, bangsawan dan kasta hamba sahaya
3. Takut dibangkitkan dari alam kubur
4. Taklid kepada nenek moyang
5. Memperniagakan patung






d. Periode kekuatan
Pada akhir periode ketiga, yaitu dalam tahun kedelapan Hijriyah, masuknya Hamza dan Umar bin Khatab kedalam agama islam. Yang dimana mereka berdua merupakan pahlawan-pahlawan Quraisy sebelumnya sehingga barisan muslimin menjadi kuat.
Dalam permulaan periode ke-4 H ini, yaitu dalam tahun ke-8 H kaum muslimin untuk pertama kali melakukan ibadah sholat dengan terang-terangan didalam Ka’bah. Pada sebelumnya itu mereka melakukan sholat dengan sembunyi-sembunyi.

2. Zaman Madinah
Pada zaman Madinah disebut juga periode pembinaan kerajaan Allah dalam masyarakat manusia.
Dakwah pada zaman Madinah merupakan lanjutan dari zaman Mekah. Dizaman Madinah ini dakwah islamiyah telah membentuk dirinya menjadi satu kekuatan nyata yang hebat sekali, dimana kaum muslimin dibawah pimpinan juru dakwah agung Muhammad yang merupakan Ansurullah, tentara Allah yang melaksanakan dakwah islamiyah dalam arti seluas kata.
Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Madinah, antara lain :
1. Peristiwa Hijrah
2. Jum’at pertama
Pada tanggal 16 Rabiul awal tahun pertama hijriyah (20 Sepetember 622 M) ketika rasul meninggalkan Quba menuju Yasrib, yang kemudian menjadi markas besar dakwah islamiyah dan namanya dirubah menjadi Madinah. Pada tanggal tersebut hari jum’at, sehingga sebelum sampai ke Yasrib tepat disuatu tempat yang bernama lembah Bani Salim, datanglah waktu sholat zuhur dan pada waktu Nabi-nabi mendapat perintah untuk mendirikan sholat jum’at, sebagai sholat jum’at pertama dalam islam. Hal ini sebagai isyarat bahwa telah datang masanya untuk mendirikan Daulah Islamiyah.

3. Mesjid pusat kegiatan
Setelah tibanya rasul dikota Yasrib pada sore hari jum’at tanggal 16 Rabiul Awal pada tahun pertama Hijriyah, terus dimulainya dengan membangun sebuah mesjid, untuk pusat ibadah, pusat pemerintahan, pusat segalakegiatan umat dan untuk markas besar Daulah Islamiyah.

4. Manifesto politik
Setelah proklamasi Negara islam pada tanggal 16 Rabuil Awal tahun pertama Hijriyah dengan ibu kota warga Negara dari Negara baru itu antara lain:
1. Orang-orang Muhajirin
2. Orang-orang Anshar, Khawarij dan kaum Auwah
3. Orang-orang Yahudi yang mendiami Madinah dan sekitarnya
4. Dan sedikitnya orang-orang yang musyrik Arab yang belum masuk islam
5. Persaudaraan Muhajirin dan Anshar
6. Izin Jihad
a. Membela diri
b. Melindungi Dakwah
7. Risalah-risalah dakwah
8. Kedatangan delegasi-delegasi
9. Khutbah Arafah yang penting
10. Khutbah dakwah terakhir .







D. Piagam Madinah

Isi piagam Madinah:
1. Kelompok masing-masing berhak menghukum orang yang membuat kerusakan dan memberikan kenyamanan bagi orang yang patuh.
2. Kebebasan beragama terjamin untuk semua kelompok
3. Menjadi suatu kewajiban baku penduduk Madinah dan Yahudi untuk saling membantu dan menolong
4. Saling mengadakan kerjasama dengan mempertahankan negeri Madinah dari segala serangan


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah nabi Muhammad merupakan Nabi dan Rasul yang diutus kepada manusia untuk memberikan bimbingan kepada jalan yang benar dengan perjuangan yang gigih. Sehingga beliau berhasil merubah kebisaan umat manusia dan keburukan kepada jalan kebenaran untuk menyembah Allah SWT.
Dan bagaimana kit sebagai umat islam menjadikn beliau sebagai contoh dan suri teladan bagi kita dalam kehidupan kita sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga,agama,masyarakat, dan bernegara.

B. Saran
Adapun saran yang dapat kami paparkan dalam makalah ini adalah agar kita dapat lebih mengetahui tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, proses turunnya wahyu yang pertama hijrah Nabi ke Madinah,dan proses pembentukan Negara Madinah sekaligus dapat memahamu isi-isi piagam Madina. Dan apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini kami mohon maaf.









DAFTAR PUSTAKA


Hasjmy A. Dustur Dakwah menurut Al-Qur’an Jakarta : Bulan Bintang, 1994


Natsir, M. Fiqhud Da’wah. Jakarta, Media Da’wah. 1988


www.dakwah pada masa rasulullah saw.com

PSIKOLOGI

OLEH:

KELOMPOK III : 1.Ajuan Tuhuteru
2. Masini Sanmas
3. Darno Uma ternate
4. Sitra mey Henaulu
JURUSAN : Komunikasi penyiaran islam
FAKULTAS : DAKWAH USHULUDDIN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) AMBON
2010-2011

Kata Pengantar

Alhamdulillah, puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “ Berpikir ”. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah SAW. Karena berkat perjuangan beliau, keluarga dan para sahabatnya-sahabatnya sehingga kita dapat menikmati Indahnya Islam sampai pada hari ini.
Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih memiliki kekurangan dan keterbatasan. Olehnya itu, masukan berupa kritik dan saran sangatlah kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan makalah selanjutnya..




Ambon, 2 Mey 2011


Kelompok 2






BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Manusia dan hewan sama-sama memiliki panca indra. Namun manusia berbeda dari hewan karena akal budi yang di anugrahkan Allah dan kemampuan ‘’berfikir’’ yang memungkinkan untuk mengadakan tinjaun dan pembahasan terhadap berbagi hal dan peristiwa. Hal hal yang diumumkan dari bagian-bagian, dan menyimpulkan berbagai kesimpulan dari premis-premis. Manusia mempunyai kemampuan kognitif yang luar biasa, yaitu berfikir. Meskipun manusia bukanlah satu-satunya manusia yang berfikir, tetapi tidak disangkal bahwa manusia merupakan mahluk berfikir.
Dalam mendefenisikan soal berfikir ini terdapat beberapa macam pendapat, diantaranya ada yang menganggap berfikir sebagai suatu proses asosiasio saja, adapula yang memandang berfikir sebagai proses penguatan hubungan antara stimulus dengan respons, ada yang mengemukakan bahwa berfikir merupakan suatu kegiatan psikis untuk mencari hubungan antara dua objek atau lebih.
B. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi permasalahan dalam penulisan makalah ini yaitu:
• Apa itu berfikir
• Dan untuk apa berfikir, kemudian
• Bagaimana orang berfikir








BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Berfikir
Berfikir merupakan suatu daya jiwa yang dapat meletakkan hubvungan-hyubungan antara pengetahuan kita. Selain itu, berfikir juga merupakan suatu proses yang “dialektis” artinya selama kita berfikir,k pikiran kiota dalam keadan Tanya jawab, Untuk dapat meletakan hubungan pengetahuan kita. Dalam berfikir kita menggunakan akal yaitu akal [rasio]. Hasil berfikir itu dapat di wujudkan dengan bahasa. Intelegensi yaitu suatu kemampuan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang baru secara tepat dan tepat . Dalam berpikir kita melebatkan semua proses yang disebut dengan, sensasi, persepsi dan memori.
Berikut adalah pengertian berpikir menurut para ahli; psikologi diantaranya.
 Philip, . harrimon berpikir adalah istila yang luas, dengan berbagai definisi misalnya; Angan-Angan, pertimbangan kreatifitas, pembicaran yang lengkap pemecahan masalah, penentuan, perencanaan, dan sebagianya.
 Drever mengemukan masalah berpikir sebagai berikut; Thingkingi is any Ceurse or train of ideas ini tiated by a probelen. ‘’ Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa berpikir bertitik tolak dari adanya persoalan atau proglem yang dihadapi secara individu.
 Floyd l. Ruch dalam bukunya yang berjudul; psychology ond life [igef] berpikir merupakan monipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan mengunakan lambang-lambag tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak.
 Menurut paul husen dan mark R. Rozenzweig. The Term’Thinking ‘ refres to moni kind of activities that involve the monipolotion of concepts and symbios,representatioms ands events.
 Wason dan johnsohn- laird berpendapat bahwa pada keadan terbaik kita semua dapat berpikir ahli laqika; dalam keadan terjelek, ahli logika semua seperti kita .
Dengan demikian, dari berbagai depenisi yang diungkapkan diatas berpikir menunjukan berbagai kegiatan yang melebarkan pengunaan konsef dan lambing. Sebagai penganti objek dan peristiwa.

B. Bagaimana orang Berfikir ?
Selama kita dalam keadaan jaga, maka gagasan-gagasan akan tercampur dengan ingatan, gambaran fantasi, presepsi dan asosiasi-asosiasi dalam proses berfikir oarng menghubungkan pengertian satu dengan pengertian lain untuk mendapat pemecahan dari persoalan yang di hadapi. Pengertian-pengertian itu merupakn bahan atau materi yang di gunakan oleh proses berfikir .
 Proses-proses yang di lewati dalam berfikir
1. Proses pembentukan pengertian, yaitu kita menghilangkan cirri-ciri umum dari sesuatu sehingga tinggal cirri-ciri khas dari sesuatu tersebut.
2. Pembentukan pendapat, yaitu fikiran kita menggabungkan (Menguraikan) beberapa pengertian; sehingga menjadi tanda masalah itu.
3. Pembentukan keputusan yaitu, pikiran kita menggabungkan pendapat tersebut.
4. Pembentukan kesimpulan, yaitu pikiran kita menarik keputusan-keputusan dari keputusan yang lain.
 Ada tiga macam untuk membentuk pengertian antara lain :
a. Pengertian pengalaman artinya pengertian yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang berturut-turut
b. Pengertian kepercayaan artinya pengertian terbentuk dari kepercayaan
c. Pengertian logis artinya pengertian yang terbentuk dari tingkat satu ketingkat lain.
Dengan demikian, dengan adanya pengertian, kita dapat berfikir secara teliti cepat dan benar.
 Dalam mengambil kesimpulan ada tiga macam kesimpulan, yaitu :
a. Kesimpulan induksi, yaitu kesimpulan yang ditarik dari peristiwa-peristiwa menuju pada hal-hal yang bersifat umum, atau dari hal-hal yang khusus ke hal-hal yang bersifat umum.
b. Kesimpulan deduktif , yaitu kesimpulan yang ditarikdari hal umum ke hal yang bersifat khusus, atau dari hokum ke peristiwa.
c. Kesimpulan analogi, yaitu kesimpulan yang di tarik atas dasar adanya persamaan dari sudut keadaan atau peristiwa yang lain. Dilihat dari jalan berfikir, kesimpulan dapat di tarik dari khusus ke khusus .
Secara garis besar ada dua macam berfikir, yaitu :
 Berfikir austistik(melamun) adalah fantasi, mengkhayal, whisful thinking. Sehingga dengan berfikir austistik orang nelarikan diri dari kenyataan dan orang melihat hidup sebagai gambar-gambar fantasi. Berfikir seperti diatas tidak mempunyai tujuan tertentu, dan seringkali di namakan pikiran (berfikir yang tidak terarah).
 Berfikir realistis atau (nalar) atu reasoning , ialah berfikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata.
Menurut Floyel L. Ruch berfikir realistic ada tiga macam yaitu :
a) Berfikir deduktif
Berfikir deduktif adalah mengambil kesimpulan dari dua pernyataan yakni dari yang umum ke yang khusus.
Dengan demikian berfikir deduktif dapat di rumuskan ‘’ jika A benar, dan B benar maka akan terjadi C’’ .
Contoh :
1. Jika hari ini hujan, saya akan membawa paying
2. Sekarang hari hujan
3. Dengan demikian saya akan membawa payung .
b) Berfikir induktif
Berfikir induktif dimulai dari hal-hal khusus kemudian mengambil kesimpulan umum, dengan cara melakukan cara generalisasi.
Contoh :
1. Saya bertemu dengan Heli, mahasiswa Fikom. Ia pandai bicara.
2. Saya dengan Heli, Yeni, Hamdan, mereka semuanya mahasiswa fikom dan pandai berbicara.
Kesimpulanya mahasiswa Fikom pandai bicara.
Ketepatan berfikir induktif bergantung pada memadainya kasus yang di jadikan dasar.
c) Berfikir evaluative
Berfikir evaluative ialah berfikir kritis, menilai baik buruknya. Tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berfikir evaluative kita tidak menambah atau mengurangi gagasan. Kita menilainya dengan criteria tertentu yang agak mirip dengan berfikir evaluative yakni berfikir anlogi.
 Menurut perkembangan mutakhir psikologi koognitif, ia mengatakan bahwa manusia lebih sering berfikir tidak logis dari pda berfikir logis seperti berfikir deduktif.
 Kata Marton Hunt (1982:121) ’’ logical reasoning is not our usual-of natural-practice, and the technicaly invalid kinds of reasoningwe generally emplay work rather will in most of everyday situations’’. ( berfikir logis bukanlah kebiasaan kita atau alamiah. Dan cara berfikir yang menurut kaidah logika tidak valid, yang biasanya kita lakukan, justru berjalan agak baik dalam kebanyakan situasi sehari-hari ) .
d) Berfikir analogi
Berfikr analogi adalah berfikir berfikir kira-kira , yang di dasarkan pada kesamaan pengalaman. Pada umumnya orang berfikir menggunakan perbandingan control.
Menurut Robert J. Strenbreg psikologi dari dari yale. Ia meneliti penggunaan analogi (Strebreg,1977). Ia menulis ‘’ kita berfikir secara analogis setiap kali kita menetapkan keputusan tentang sesuatu yang baru dalampengalaman kita, dengan menghubungkan pada sutu yang sama pada masa lalu kita .
Contoh :
Bila kita membeli ikan mas, karena kita menyukai ikan mas yang dulu, atau kita mendengar nasehat kawan, karena nasehat dahulu benar .
 Dalam berfikir ada istilah-istilah antara lain :
1. Pengetahuan artinya , tanggapan–tanggapan pengertian-pengertian, keputusan-keputusan yang dalam jiwa manusia.
2. Akal, akal untuk berfikir atau daya jiwa yang meletakan hubungan antara pengetahuan-pengetahuan.
3. Ilham (whayu) , sesuatu yang di berikan kepada Nabi.
 Proses berfikir menurut beberapa pendapat antara lain :
a. Menurut ilmu asosiasi, yaitu berfikir itu berlangsung secara mekanisme menarik tanggapan-tanggapan yang sejenis dengan tanggapan yang tak sejenis.
b. Menurut ilmu jiwa Apersepsi, yaitu dalam proses berfikir itu jiwa aktif memberikan arah dan mengatur prose situ.
c. Menurut aliran jiwa berfikir, bahwa berfikir merupakan pergaulan antara pengertian-pengertian sehingga proses berfikir di arahakan oleh :
• Soal yang dijumpai
• Berfikir itu menggunakan pemikiran yang kompleks
• Berfikir itu menggunakan bagan
• Berfikir itu menggunakan cara-cara tertentu
Dalam hal berfikir orang kadang-kadang menghadapi sebagian hambatan yang membuatnya melenceng dari jalan yang lurus dan sehingga menghalangi untuk sampai pada relitas yang ingin di capainya. Apabila seseorang banyak mengalami hambatan-hambatan dimana akan membuatnya menjadi statis dan tidak mampu menerima pendapat-pendapat dan pemikiran-pemikiran baru. Sehingga pemikiran seseorang menjadi macet dan statis, maka ia akan kehilangan karasteristik utama yang membedakanya dari hewan. Seperti yang di jelaskan dalam Al-Qur’an antara lain :
a. Q.S. Al-Furqan (25):44
b. Q.S. An-Nahl (16) :108
c. Q.S. AL-Baqrah(2): 2-7
d. Q.S. Ar-Rum (30) : 30
e. Q.S. Al-Araf (7) : 100-101
f. Q.S. Al-Isra (17) :46
g. Q.S. Fushshilat (41) : 5
h. Q.S. Al- An’am (6) :25
i. Q.S. Muhammad (47) :224.

C. Untuk Apa Orang Berfikir ?

 Menurut Rahmat, berfikir di lakukan orang dengan tujuan untuk memahami realita dalam rangka mengambil keputusan (making dicision ) memecahkan masalah (problem solving). Dan menghasilkan sesuatu yang baru (creative thinkin). Dimana memahami relitas berarti menarik kesimpulan, meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari realitas eksternal dan internal.
Adapaun tujuan menurut rahmat adalah :
Menetapkan keputusan (Decesion Making)
Salah satu fungsi berfikir ialah menetapkan keputusan. Sepanjang hidup kita harus menetapkan keputusan. Sehingga dari keputusan itu ada yang menentukan masa depan .
Contoh :
1. Ketika Anda menetapakan keputusan masuk fakultas ilmu komunikasi, anda harus tahu nasib anda nanti tidak secerah dokter atau pegawai kecamatan yang mengurus proyek.
2. Ketika anda memutuskan memilih dia, anda siap menerima hidup bersama dia.
Setiap keputusan yang di ambil akan di usul oleh keputusan-keputusan lainya yang berkaitan. ketika belajar keluar negri anda juga harus memutuskan tidak menikah terlebih dahulu, untuk meninggalkan keluarga, untuk hidup sendiri di rantau , dan seterusnya.
Keputusan yang kita ambil beraneka ragam. Tapi ada tanda-tanda umumnya, antara lain :
1. Keputusan merupoakan hsil berfikir, hasil intelektual
2. Keputusan selalu melibatkan berbagai pilihan alternative
3. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata , walaupun pelaksanaan boleh di tangguhkan atau di lupakan.
Disamaping tanda –tanda umum mengambil keputusan, dalam mengambil keputusan pun sangat di pengaruhi oleh factor-faktor person dalam menentukan apa yang mau di putuskan itu, antara lain :
1. Kognisi ; yaitu kualitas atau kuantitas pengetahuan yang dimiliki.
Contoh :
 Bila Anda tahu bahwa daerah X bebaya, anda akanmemutuskan anda tidak akan datang kesan.
 Bila media masa memberitahuakan bahawa mahluk mars datang, anda akan mencoba ingin tahu atau melariakan diri di bawah ranjang (seperti tacit gerhana matahari).

2. Motif, amat mempengaruhi pengambilan keputusan.bila anda memperoleh posisi ytang penting di kantor X, anda akan memutuskan bekerja sama dengan Q
3. Sikap, sikap juga factor penentu lainya. Bila sikap anda negative terhadap kaum buruh, anda tentu memutuskan untuk tidak menggubris protes mereka.

Memecahkan Persoalan (Problem solving)
Umumnya ketika bergerak sesuai dengan kebiasaan, namun suatu ketika ketika kita menghadapi dengan situasi yang tidak dapat di hadapi dengan cara yang yang biasa, disitulah timbul masalah.
 Proses pemecahan masalah berlangsung melalui lima tahap yaitu :
1. Terjadi peristiwa ketika perilaku yang biasa dihambat sebab tertentu
2. Mencoba menggali memori untuk mengetahui cara-cara apa saja yang efektif pada masa lalu
3. Mencoba seluruh kemungkinan pemecahan masalah yang pernah di ingat atau dapaty di pikirkan. Pada tahap terjadi triad and eror yang disebut dengan penyelesaian mekanik (mechanical soluction)
4. Mulai menggunakan lambing-lambang verbal batau grafis-grafis untuk mengatasi masalah ; mencoba memahami sesuatu yang terjadi. Mencari jawaban, dan menemukan kesimpulan yang tepat : mungkin menggunakan deduksi atau induksi. Tetpi karena jarang memperoleh informasi lengkap, terjadinya lebih sering menggunakan analogi.
5. Tiba-tiba terlintas dalam fikiran anda suatu pemecahan masalah ini disebut Aha Erlebinis (pengalaman aha) atau lebih lazim di sebut insight solution .

 Menurut Usman Najati, langkah-langkah berfikir dalam menyelesaikan (pemecahan masalah) antara lain :
1. Kesadaran akan adanya problem
2. Perhimpunan data mengenai problem yang di hadapi
3. Penyusunan hipotesis
4. Penilaian
5. Penilaian terhadap hipotesis
6. Pengujian kebenaran hipotesis
Hal ini dapat kita temui dalam kisah nabi Ibrahim dalam cara berfikir yang ditempuhnya untuk smapai pada pengetahuan akantuhan yang maha agung dan kuasa yang menciptakan alam aasemesta ini.
Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an yakni :
1. Q.S. Al-An-am (6) :74-79
2. Q.S. Ash- Shaffat ( 37) : 95
3. Q.S. Al- Anbiaya (21) :66-67.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemecahan masalah.
Seperti perilaku manusia yang lain, pemecahan masalah dipengaruhi factor-faktor situasional dan personal. Factor situasional terjadi misalnya : pada sifat-sifat masalah, Sulit-mudah, baru-lama, penting-kurang penting, meilbatkan sedikit atau banyak masalah lain .Kita tidak mengulas factor-faktor situsional secara terperinci.
Contoh factor biologi :
Manusia yang kurang tidur mengalami proses kurang berfikir, begitu pula bila ia terlalu lelah. Selain ada factor biologi, ada factor lain seperti :
1. Motifasi, motifasi yang rendah mengalihkan perhatian, motifasi yang tinggi membatasi feksebelitas
Contoh:
a. Anak yang telalu bersemangat untuk melihat hadiah ulang tahun, sering tidak dapat membuka pita bingkisan.
b. Karena terlalu tegang menghadapi ujian kita tidak sanggup menjawab pertanyaan pada ujian tersebut.

2. Kepercayaan dan sikap yang salah.
Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Misalnya ;bila kita percaya kebahagian dapat di peroleh dengan kekayaan material, kita akan kesulitan memecahkan penderitaan bati kita. Kerangka rujukan yang tidak cermat menghadapi efektifitas pemecahan masalah. Sikap yang di fensif misalnya , karena kurang percya pada diri sendiri akan menolak informasi baru, merasionalisasikan kekeliruan dan mempersukar penyelesaian.
3. Kebiasaan.
Kecenderungan untuk mempertahankan pola berfikir tertentu, atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja. Atau kepercayaan yang berlebihan tanpa kritis pada pendapat otoritas, menghambat pemecahan masalah yang efesien.
4. Emosi.
Dalam menghadapi berbagai situasi, tanpa sadar kita terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berfikir kita,tidak pernah dapat berfikir matang-matang tentang objektif. Sebagai manusia yang utuh kita tidak dapat menyesampingkan emosi.
Emosi bukan hambatan utama, tetapi jika emosi itu sudah mencapai intuititas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress. Barulah kita sulit berfikir yang efisien.

Berfikir kretif (creative thinking)
Fungsinya adalah menciptakan sesuatu yang baru(creativity). Dan hanya manusia yang mampu melakukan creativity sepanjang sejarah hidupnya. Berfikir secara kretif berarti berfikir untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang dari dan yang suda ada.
 Menurut James C. Colemean dan Caustance L. Hammen (1974) adalah ‘’thinking which produces new methods, new concepts, new understandings, new invebtions, new work of art.’’
(berfikir kreatif diperlukan mulai dari komunikator yang harus mendesain pesanannya , insinyur yang harus merancang bangunan, ahli iklan yang menata ferbal dan pesan gratis. Sampai pada pemimpin masarakat masalah social.
Berfikir kreatif harus memiliki tiga syarat :
1) Kreatifitas melibatkan respon atau gagasan yang baru, atau yang secara statistic sangat jarang terjadi
2) Kretifitas adalah yang dapat memecahkan persoalan secara realitas.
3) Kretifitas merupakan usaha untuk mempertahankan insight yang osisional, memiliki dan mengembangkannya sebaik mungkin((Mackinam):1962-485)
 Gulford membedakan antara berfikir kreatif dan tidak kreatif dengan konsep berfikir konvergen dan dikonvergen. Dimana ,
a. Berfikir konvergen
Jika kita di Tanya apa ibu kota republic Indonesia? ‘’ anda menjawabnya dengan konvergen yakni, kemampuan untuk memberikan suatu jawaban yang tepat pada pertanyaan yang diajukan. Sedangkan
b. Berfikir divergen
Missalnya jika , anda ditanya, ‘’ apakah perbedaan antara bank dan koperasi? Jawabannya sebutkan sebanyak mungkin’’ anda menjawabnya dengan berfikir divergen, yakni mencoba menghasilkan sejumlah kemungkinan jawaban, berfikir konvergen erat kaitanya dengan kecerdasan divergen, dengan kretifitas.
Proses-proses berfikir kreatif :
Para psikolog menyebutkan lima tahap berfikir kreatif , antara lain :
 Orientasi ; artinya masalah di rumuskan, dan aspek-aspek masalah di identifikasi.
 Preparasi; artinya pikiran dimana berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang relevan debgan masalah.
 Inkubasi ; pikiran beristirahat sebentar ketika berbagai pemecahan masalah berhadapan dengan jalan buntut. Dimana tahap ini proses pemecahan masalah berlangsung terus dalam jiwa bawah sadar kita.
 Iluminasi ; artinya masa inkubasi berakhir ketika pemikir memperoleh macam ilham serangkaian insighk yang memecahkan masalah.
 Verifikasi : artinya tahap terakhir untuk menguji dan secara kritis menilai pemecahan masalah yang di ajukjan pada tahap ke empat.
Faktor-faktor umum yang mempengaruhi berfikir kreatif
1) Kemampuan kognitif ; termasuk disini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan baru, gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
2) Sikap yang terbuka ; orang yang kretif mempersiapkan dirinya menerima stimulus baik internal maupun eksternal.
3) Sikap yangb bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri.













Bab III
Penutup
A. Kesimpulan.
Adapun kesimpulan yang kami cantumkan dalam maklh ini adalah :
1) Perbedaab anatara berpikir kretif dan berpikir tidak kretif dengan konsep berpikir konvergen dan divergen
2) Ketika dalam mengambil kesimpulan harus di prhatikan tiga macam mengambil kesimpulan antara lain:
 Kesimpulan induksi
 Kesimpulan deduktif
 Kesimpulan analogi.

B. Saran
Bagi siapa saja yang membaca makalah ini baik Pak Dosen maipun teman-teman sekalian sangatlah kami harapakan kritik dan saran kritik dan saran bagi bapak maupun teman-teman yang sifatnya membangun , demi kesempurnaan makalah berikutnya.

MAKALAH ULUMUL QUR'AN

PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Kata i’jaz diambil dari kata kerja ajaza-i’jaz yang berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah:31 yang berbunyi:
Artinya: ”….mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini” (Al-Maidah:31)
Lebih jauh lagi, Al-Qaththan (dalam Rosihon Anwar, 2000:10) mendefinisikan i’jaz dengan ”memperlihatkan kebenaran Nabi SAW atas pengakuan kerasulannya, dengan cara membuktikan kelemahan orang Arab dan generasi sesudahnya untuk menandingi kemukjizatan Al-Qur’an”. Sedangkan pelakunya (yang melemahkan) dinamai mu’jiz. Bila kemampuannya melemahkan pihak lain amat menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai mukjizat.
Dalam hal ini mukjizat didefinisikan oleh para pakar agama islam sebagai ”suatu hal atau peristiwa luara biasa yang terjadi melalui seseorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya, sebagai tantangan bagi orang yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi tidak melayani tantangan itu (Quraish Shihab dalam Rosihon Anwar, 2000:10).
Sedangkan Al-Qaththan (dalam Rosihon Anwar, 2000:11) menyimpulkan bahwa ”Mukjizat itu merupakan suatu kejadian yang keluar dari kebiasaan, disertai dengan unsur tantangan, dan tidak akan dapat ditandingi”.
Jadi menurut Hamzah (2003:-) mendefinisikan bahwa ”i’jaz Al-Qur’an adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas kekuatan susunan lafal dan kandungan Al-Qur’an, sehingga dapat mengalahkan ahli-ahli Bahasa Arab, dan ahli-ahli lainnya.”
2.2 MACAM-MACAM I’JAZ AL-QUR’AN
Dalam sebuah buku yang berjudul ”Al-I’jaz Qur’any fi Wujuhil Muktasyifah”, macam-macam i’jaz Al-Qur’an yan terungkap antara lain: i’jaz balaghi (berita mengenai hal ghaib), i’jaz tasyri’ (perundang-undangan), i’jaz ilmi, i’jaz lughawi (keindahan redaksi Al-Qur’an), i’jaz thibby (kedokteran), i’jaz falaky (astronomi), i’jaz adady (jumlah), i’jaz i’lami (informasi), i’jaz thabi’i (fisika) dan lain sebagainya.
Karena banyaknya berbagai macam i’jaz Al-Qur’an, maka dalam hal ini akan diuraikan beberapa bagian dari macam-macam i’jaz Al-Qur’an yang disebut dalam buku ”Al-I’jazal Qur’any fi wujuhil Muktasyifah”, antara lain:
1. I’jaz Balaghy (berita tentang hal-hal yang ghaib)
Sebagian ulama’ mengatakan bahwa mukjizat Al-Qur’an adalah berita ghaib, contohnya adalah Fir’aun yang mengejar Nabi Musa as, hal ini diceritakan dalam QS. Yunus: 92
Artinya: ”Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami” (QS. Yunus:92)
Berita-berita ghaib yang terdapat pada wahyu Allah SWT yakni Taurat, Injil, dan Al-Qur’an merupakan mukjizat. Berita ghaib dalam wahyu Allah SWT it membuat manusia takjub, karena akal manusia tidak mampu mencapai hal-hal tersebut.
2. I’jaz Lughawy (keindahan redaksi Al-Qur’an)
Menurut Shihab (dalam Rosihon Anwar, 2000:34) memandang segi-segi kemukjizatan Al-Qur’an dalam 3 aspek, di antaranya aspe k keindahan dan ketelitian redaksinya. Dalam Al-Qur’an dijumpai sekian banyak contoh keseimbangan yang serasi antara kata-kata yang digunakan, yaitu: Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dan antonimnya. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya atau makna yang dikandungnya. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah yang menunjukkan akibatnya.
3. I’jaz ’Ilmi
Di dalam Al-Qur’an, Allah mengumpulkan beberapa macam ilmu, di antaranya ilmu falak, ilmu hewan. Semuanya itu menimbulkan rasa takjub. Beginilah i’jaz Al-Qur’an ilmi itu betul-betul mendorong kaum muslimin untuk berfikit dan membukakan pintu-pintu ilmu pengetahuan.
Menurut Quraish Shihab, banyak sekali isyarat ilmiah yang ditemukan dalam Al-Qur’an, misalnya: Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri dan cahaya bulan merupakan pantulan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 5.
Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan nafas. Hal itu diisyaratkan dalam firman Allah:
”Barangsiapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dada orang itu untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.” (QS. Al-An’am: 125)
Perbedaan sidik jari manusia, sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah SWT:
”Bukan demikian, sebenarnya Kami berkuasa menyusun (kembali) jari-jarinya dengan sempurna.” (QS. Al-Qiyamah: 4)
Aroma manusia berbeda-beda, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT surat Yusuf ayat 94
Masa penyusunan yang sempurna. Sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah surat Al-Baqoroh ayat 233
Adanya nurani (superego) dan bawah sadar manusia sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah surat Al-Qiyamah ayat 14-15.
Demikianlah petunjuk-petunjuk ilmiyah dan pandangan-pandangan orang yang terdapat dalam Al-Qur’an merupakan hidayah Allah. Oleh sebab itu orang harus memepergunakan akalnya untuk membahas dan memikirkannya. Sayyid Quthb dalam tafsirnya tentang firamnAllah yang berbunyi:
”Mereka bertanya tentang bulan sabit, katakanlah bahwa bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (QS. Al-Baqoroh: 189)
4. I’jaz Tasyri’i
Al-Qur’an menetapkan peraturan pemerintah Islam, yakni pemerintah yang berdasarkan musyawarah dan persamaan serta mencegah kekuasaan pribadi. Firman Allah SWT:
”Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (QS. Ali Imron: 159)
Di dalam pemerintahan Islam, tasyri’i itu tidak boleh ditinggalkan. Al-Qur’an telah menetapkan bila keluar dari tasyri’ Islam itu hukumnya kafir, dzalim, dan fasik. Firman Allah SWT:
”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka ini adalah orang-orang kafir” (QS. Al-Maidah: 44)
Al-Qur’an menetapkan perkara yang sangat dibutuhkan oleh manusia, yakni agama, jiwa, akal, nasab (keturunan) dan harta benda. Di atas lima perkara ini disusun sanksi-sanksi hukum yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ini dapat dilihat dalam fiqh Islam, yaitu yang bersangkutan dngan jinayat dan huduud.
”Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masingnya itu seratus kalii dera” (QS. An-Nur: 2)
5. I’jaz ’Adady (Jumlah)
I’jaz ’adady merupakan rahasia angka-angka dalam Al-Qur’an. Seperti dikatakan ”sa’ah” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 24 kali, sama dengan jumlah jam dalam sehari semalam. Selain itu Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada tujuh.
Penjelasan ini diulangi sebanyak tujuh kali pula dalam surat Al-Baqoroh: 29, surat Al-Isra’: 44, surat Al-Mukminun: 86, surat Fushshilat: 12, surat Ath-Thalaq: 12, surat Al-Mulk: 3, dan surat Nuh: 15.
Adapula kata-kata yang menunjukkan utusan Tuhan, baik rasul atau nabi atau basyir (pembawa berita gembira) atau nadzir (pemberi peringatan), kesemuanya berjumlah 518 kali. Jumlah ini sama dengan penyebutan nama-nama nabi, rasul, dan pembawa berita yakni 518 kali.
2.3 UNSUR-UNSUR MUKJIZAT
Sebagaimana dijelaskan oleh Quraish Shihab (dalam Rosihon Anwar, 2000:11), bahwa unsur-unsur mukjizat adalah:
1. Hal atau peristiwa yang luar biasa.
Peristiwa-peristiwa alam, walaupun menakjubkan, tidak dinamai mukjizat, karena peristiwa tersebut merupakan sesuatu yang biasa, yang dimaksud dengan luar biasa. Yang dimaksud luar biasa adalah sesuatu yang berada di luar jangkauan sebab akibat yang hukum-hukumnya diketahui secara umum.
1. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang Nabi.
Apabila keluarbiasaan bukan dari seoranag Nabi, tidak dinamai mukjizat. Demikian pula sesuatu yang luar biasa pada diri seseorang yang kelak bakal menjadi Nabi ini pun tidak dinamai mukjizat melainkan irhash dan keluarbiasaan yang terjadi pada seseorang yang taat dan dicintai oleh Allah SWT dinamakan karomah. Bertitik tolak dari keyakinan umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, maka jelas tidak mungkin lagi terjadi suatu mukjizat sepeninggalnya.
1. Mengandung tantangan terhadap mereka yang meragukan nabi
Di saat ini, tantangan tersebut harus pula merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan nabi. Kalau misalnya ia berkata ”batu ini dapat berbicara”, tetapi ketika batu itu berbicara, dikatakannya bahwa ”sang penantang berbohong” maka keluarbiasaan ini bukanlah mukjizat, tetapi Ihanah atau Istidraj.
2. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani
Bila yang ditantang berhasil melakukan hal yang serupa, berarti pengakuan sang penantang tidak terbukti.
2.4 ASPEK KEMU’JIZATAN AL QUR’AN
Pada umumnya ulama, pengarang dan buku-buku yang berkaitan dengan I’jaz al Qur’an mengemukakan banyak sekali kemukjizatan yang dikandung oleh al Qur’an. Al Qurthuby (w. 256 H/ 1258 M) mengemukakan sepuluh aspek kemukjizatan al Qur’an, yaitu:
1. Aspek bahasanya yang melampaui seluruh cabang bahasa Arab.
2. Gaya bahasanya yang melampaui keindahan gaya bahasa Arab pada umumnya.
3. Keutuhannya yang tidak tertandingi
4. Aspek peraturannya yang tidak terlampaui.
5. Penjelasannya tentang hal-hal yang ghaib hanya dapat ditelusuri lewat wahyu semata.
6. Tidak ada hal yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan (science).
7. Memenuhi seluruh janjinya, baik tentang limpahan rahmat atau ancaman.
8. Pengetahuan yang dikandungnya.
9. Memenuhi keperluan dasar manusia.
10. Pengaruh terhadap qalbu manusia.
Sementara al Baqilani (w. 403 H/ 1013 M) dalam kitabnya I’jazat al Qur’an mengemukakan tiga aspek yaitu tentang 1) ke ummy-an Nabi SAW sebagai pengemban wahyu, 2) berita tentang hal yang ghaib, dan 3) tidak adanya kontradiksi dalam al Qur’an. Rusydi AM mengemukakan bahwa kemukjizatan al Qur’an terletak pada segi fashahah dan balaghah-nya, susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada bandingannya.
Manna al Qaththan mengemukakan tiga pendapat tentang kadar kemukjizatan al Qur’an yaitu:
1. Mu’tazilah menyatakan keseluruhan al Qur’an merupakan mukjizat, bukan sebagian atau beberapa bagian saja.
2. Sebagian ulama lainnya berpendapat kemukjizatan al qur’an terletak pada sebagian kecil atau sebagian besar al Qur’an, tanpa terkait surat. Pendapat ini didasari firman Allah surat at Thur ayat 34 “Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.”
3. Ulama lainnya berpendapat kemukjizatan cukup dengan satu surat lengkap, sekalipun hanya surat pendek. Atau dengan satu atau beberapa ayat.
Setelah melalui penelitian yang cermat, akhirnya Manna al Qaththan memutuskan kadar kemukjizatan al Qur’an itu mencakup tiga Aspek yaitu, aspek bahasa, aspek ilmiah dan aspek tasyri’ (penetapan hukum).
Penulis yakin, bahwa setiap pembahasan tentu akan menentukan topiknya sendiri dan menentukan fokus kajian sesuai dengan minat dan temuannya masing-masing. Berdasarkan asumsi inilah penulis mencoba (bereksperimen, mudah-mudahan tidak meleset!) membahas beberapa segi kemukjizatan al Qur’an sebagai bentuk ringkasan dari beberapa pendapat di atas terutama pendapat al Qaththan yang akn penulis kembangkan dan elaborasi lebih jauh.